Matematika Untuk Anak Usia Dini

· Uncategorized
Penulis

Melihat anak-anak yang masih berusia dini memang sangat menggemaskan. Masa-masa inilah yang sering membuat kita ingin mendekati mereka karna kelucuannya tersebut. Sebenarnya anak akan berkembang sendirinya sesuai dengan umur masing masing, tetapi kadang orang tualah yang salah pemahaman tentang hal ini. Terkadang orang tua meminta anaknya dalam umur sekian agar sudah bisa membaca, berjalan, menulis, dan lain-lain. Akan tetapi, sebenarnya anak pada usia tertentu baru dapat melaksanakan kegiatan barunya itu.

Sebenarnya anak pada usia tiga, empat, lima tahun itu berubah dan berkembang sangat cepat. Perubahan dalam pengertian ini memungkinkann anak usia 3-5 tahun mengerti konsep-konsep matematika dengan cara yang baru. Sebenarnya matematika merupakan kegiatana yang paling penting namun kurang ditekankan dalam ruang kemas prasekolah dan TK. Sering para guru anak-anak usia 3-5tahun mengungkapkan rasa tidak nyamannya dan kurangnya kekerabatan dengan konsep matematika. Oleh karena itu mereka kurang mau menghabiskan waktu kurikulumnya dengan pelajaran matematika. Bagaimanapun, sebenarnya ketrampilan berpikir dan bernalar mempunyai akar dalam konsep dini seperti mengidentifikasi hubungan dan pola pola benda dan peristiwa kepekaan pada angka-angka. Dengan pengertian yang bagus tentang konsep matematika, para guru bisa secara efektif memadukan kegiatan matematika sepanjang kurikulum.
Pada usianya umur 3-5 tahun, anak-anak sudah mulai melakukan hal-hal seperti berikut:

  •  Berfikir tentang simbol/lambang -> mereka mulai mengerti bahwa kata-kata seperti “marry” dan “sam” merupakan perwakilan dari seseorang. Sama halnya seperti angka yang bisa mewakili banyak benda.
  • Memahami kelestarian bilangan -> kelestarian disini dimaksudkan kemampuan memahami bahwa zat-zat dan benda benda itu tetap sama terlepas dari perubahan bentuk atau perubahan susunan dalam ruang. Biasanya anak tau akan umurnya sendiri, akan tetapi anak tersebut tidak mengetahui bilangan yang seperti apa yang mewakili umurnya itu.
  • Berfikir secara simbolis -> pemikiran dan penalaran anak pada usia ini disebut dengan semi logis karena penalaran logika mereka terbatas. Anak-anak pada usia 3-5 tahun ini tidak mampu untuk mengingat lebih daripada satu hubungan dalam satu waktu.

Sebenarnya matematika dibangun oleh keingin tahuan dan semangat anak-anak dan tumbuh secara alami dari pengalaman mereka. mengembangkan matematika dari dasar mungkin dengan:

  1. Mengembangkan terlebih dahulu bahasa matematika pada anak yaitu dengan berbicara dan bercakap informal dengan anak-anak tentang semua kegiatan mereka dapat menuntun kepada perkembangan bahasa yang bisa digunakan untuk menjelaskan konsep dan prosedur matematika. Sebenarnya ketika anak-anak belajar sebutan untuk bentuk seperti lingkaran, segi empat, dan segi tiga mereka sedang belajar bahasa matematika. Mungkin anak usia seperti ini matematikanya tidak seperti anak dewasa pada umumnya. Bahkan kata “setengah” “sepertiga” “lebih dari” “kurang dari” itu sudah merupakan pengetahuan tentang konsep matematika. Intinya belajar kata-kata yang membantu menggambarkan pola, ukuran dan bentuk-bentuk benda, dan berhubungan benda satu sama lain membantu anak dalam mengembangkan bahasa matematika. Mungkin yang cocok area bermain anak dengan matematika contohnya permainan undian (lotto), atau dengan permainan yang menyelusuri jalan berlorong, atau dengan diterapkannya anak belajar bergantian, menghitung dan pada waktu yang sama mengikuti aturan-aturan permainan yang anak menambah kosakata matematika.
  2.  Mempunyai kesempatan interaktif untuk pengalaman matematika yaitu dengan pengalaman langsung anak-anak dengan bahan yang berkaitan dengan matematika langsung. Yaitu dengan mendorong anak untuk berkreasi dengan benda-benda yang ada disekitar lingkungannya. Atau mungkin dengan interaksi dengan orang lain yaitu dengan interaksi dengan teman-teman sebayanya biasanya dengan teman sebayanya inilah yang membuat anak dapat menceritakan dunianya dengan secara leluasa. atau mungkin dengan waktu yang cukup untuk refleksi yaitu biasanya lingkunganlah yang memungkinkan terciptanya refleksi oleh karena itu perlu dilakukan didalam ruangan kelas oleh guru. Pada saat itu guru perlu menciptakan kesempatan untuk anak merefleksikan pikiran mereka dan pada akhir kegiatan guru dapat bertanya “berapa banyak roti yang kalian makan tadi pagi?” nah itulah yang memungkinkan anak untuk berfikir tentang konsep-konsep didalam kegiatan yang mereka ikuti, dengan catatan guru dapat melakukan pertanyaan yang berulang ulang yang sejenis. Mestipun anak usia 3-5tahun mungkin akan tertantang oleh pertanyaan itu, maka akan tercipta awal kesempatan bagi mereka untuk berfikir tentang matematika.

Memotivasi minat terhadap matematika yaitu dengan menumbuhkan anak agar menyukai berfikir dan bernalar secara matematika. Sebelumnya guru harus menyenangi konsep matematika pada anak dan tak lupa mengembangkan pengertian kuat tentang bagaimana menerapkan matematika sepanjang kegiatan-kegiatan sehari harinya. Disini guru juga harus dapat menyesuaikan matematika untuk anak umur 3-5 tahun. Banyak kesalahan yang diperbuat guru dengan menerapkan matematika pada anak dasar ini dengan konsep yang lain atau yang lebih rumit. Contohnya seorang guru dapat menyajikan konsep matematika “sedikit “banyak” dsb dengan membuat grafik kesukaan anak-anak pada es krim coklat atau vanilla atau strawberry, atau mungkin jumlah anak-anak yang mengenakan kerudung atau tidak, dan lain sebagainya. Kegiatan yang sesuai dengan anak usia dini dan minat anak-anak bisa memotivasi mereka untuk menyukai matematika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: